• Di mana aku berada?

      0 comments

    Kubersyukur padaMu Tuhan

    Telah membuka mataku

    Akan hikmah dibalik itu semua

    RahasiaMu tak dapat tertebak

    Kesabaran membuahkan hasil

    Keyakinan memantapkan hati

    Kemana langkah kaki ini kan berjalan

    Tak lagi ragu

    Karena kutahu tujuanku

    Petunjuk-Mu terlihat di sekeliling

    Alam, udara, manusia

    Terima kasih karena telah mempertemukanku dengan orang-orang itu

    Orang-orang yang bersih hatinya…Amienn..

  • Pelatihan: Penting atau tidak penting ?!!

      0 comments

    Sebuah organisasi ataupun perusahaan senantiasa mengalami perubahan sesuai dengan perubahan zaman. Perkembangan ilmu dan teknologi mengharuskan kita selalu aktif untuk membuka mata dan telinga terhadap perubahan yang terjadi. Peralihan zaman dari Information Age menjadi Conceptual Age semakin dekat. Penyelenggaraan pelatihan menjadi salah satu jawaban bagi perusahaan untuk men’charge’kan kembali kinerja karyawan. Mulai dari pelatihan yang berupa teknis hingga pelatihan yang mengedepankan perubahan attitude kerap kali menjadi pilihan perusahaan dalam memenuhi kebutuhan Sejauh mana pelatihan tersebut dianggap penting atau tidak penting dalam sebuah organisasi/perusahaan, perlu dilakukan atau tidak? Berikut ini dijabarkan beberapa pendapat dari berbagai sumber.

    Mengapa pelatihan?

    Menurut Ary Ginanjar A, dalam buku Rahasia Sukses Membangun Kecerdasan Emosi dan Spiritual ESQ menyebutkan bahwa Globalisasi adalah bukti nyata akan kebutuhan manusaia untuk berinteraksi dan bersinergi dengan kelompok lain di luar kelompoknya. Tidak diragukan bahwa pikiran kelompok dan sinergi akan menghasilkan sebuah pemikiran yang jauh lebih cerdas dan lebih sempurna. Peningkatan kecepatan informasi, ilmu pengetahuan, juga jaringan kerja, membuat kita semakin bergantung pada pemikiran kelompok-kelompok lain dibandingkan dengan masa-masa sebelumnya. Oleh sebab itu, dibutuhkan pelatihan ketangguhan social (social strength) dalam menghadapi perubahan yang ada.

    Hal senada juga disampaikan dalam buku Prof Yusufhadi Miarso, Menyemai Benih Teknologi Pendidikan yang mengatakan bahwa perubahan lingkungan, tentu saja tidak dapat diatasi dengan cara lama, termasuk pengetahuan, teknologi, dan manajeman, serta kepemimpinan. Menghadapi perubahan dan masalah baru tersebut maka setiap organisasi yang ingin bertahan hidup dan ingin berkembang, harus dapat menyesuaikan diri dengan menggunakan cara-cara atau pendekatan baru.

    Dalam buku Ary Ginanjar A, juga ditemukan hasil dari sebuah penelitian yang dilakukan Robert Kelley, dari Carnagie Mellon University di Carnagie Mellon University yang menunjukkan bahwa presentase kebutuhan pengetahuan dalam mengerjakan tugas dari dalam benak sendiri adalah sekitar 75% ditahun 1986 dan terjadi penurunan sekitar 15-20 % pada tahun 1997. Dari penelitian ini dapat ditarik kesimpulan bahwa keberhasilan seorang pekerja/karyawan bukan berdasarkan pengetahuannya saja, tetapi ada aspek lain di luar itu yang lebih penting yaitu EQ dan SQ.

    Oleh sebab itu pelatihan merupakan salah satu jawaban dalam menjawab tantangan perubahan zaman tersebut. Teori dan praktek yang selama ini diterima oleh pekerja/ anggota organisasi sebelum ia menjalani pekerjaannya dimasa sekarang bisa jadi sudah usang. Ataupun praktik pekerjaan atau kinerja yang ia lakukan sekarang ini bisa jadi cuma pengulangan dari pola rutinitas yang ia lakukan selama ini. Bangku pendidikan formal yang telah dienyam oleh para pekerja sebelum ia memasuki real world bukan merupakan garansi, bahwa ia akan menjadi kompeten sesuai bidangnya. Seperti yang dikemukakan bapak Ary G.A, kebiasaan menghafal teori selama ini sering dilakukan dengan hanya menggunakan kepala bukan dengan hati. Akibatnya hanya ingat dalam kurun waktu tertentu. Tanpa dipraktikkan, teori terbuang percuma. Setelah diingatkan kembali barulah menyesal.

    Lantas seperti apakah pelatihan yang seharusnya ada?

    Dalam buku Meningkatkan produktivitas karyawan, Seri Manajemen No.95: yang disunting oleh Bambang Kussriyanto, Keberhasilan pelatihan tergantung pada 3 hal:

    • Jalinan rencana keseluruhan yang serasi
    • Teknik khusus yang digunakan
    • Jangka waktu penyelenggaraan yang tepat

    Dalam buku itu juga dikemukakan bahwa idealnya pelatihan dilaksanakan begitu penyelia baru diangkat, hal ini merujuk pada asumsi bahwa selagi mereka masih penuh semangat dan gembira serta sebelum mereka dijangkiti kekhawatiran bahwa mereka tidak mampu melakukan tugas, sehingga lambat laun akan membentuk rasa rendah diri. Akan tetapi kenyataannya seringkali penyelia bekerja terlebih dahulu beberapa waktu, dan baru diberi pelatihan manakala kesulitan dalam bidang tertentu.

    Selain itu pelatihan harus dimaksudkan untuk membina bakat-bakat baik disamping untuk mengobati kekurangan. Baik segi-segi yang merupakan kekuatan maupun segi-segi yang merupakan kelemahan harus diperhatikan dan diolah secara seimbang dalam program pelatihan yang diselenggarakan.

    Pelatihan kognitif vs pelatihan attitude

    Semenjak para pemimpin perusahaan menyadari pentingnya sebuah mentalitas dan attitude, mereka kemudian mengirimkan pada manajernya serta staffnya untuk mengikuti training dengan harapan agar terjadi suatu perubahan mental pada karyawannya. Meski terkadang hasilnya memang terlihat cuma beberapa saat. Pemikiran tentang pealtihan yang berdasarkan pada nilai kognitif semata telah beranjak menjadi pelatihan mental.

    Orientasi bisnis seharusnya menggunakan pondasi pada optimalisasi spiritual capital bukan material capital. Yang dibenarkan oleh ahli psikologi, Victor Frankl, yang mengetakan bahwa mereka yang mampu mamaknai setiap aktivitasnya, memiliki kekuatan unutk bertahan hidup di dunia fana ini. Lebih lanjut Kouzes, dan Postner (Leadership Challenge, 2002) mengatakan bahwa sumber komitmen yang tinggi bukanlah pada kokohnya core values perusahaan, tetapi lebih kepada personel values (nilai-nilai pribadi karyawan) yang kokoh. Karena nilai pribadi itu yang tercermin dalam praktik bekerja dan komitmen bekerja bukan nilai perusahaan. Nilai individu yang dianut memgang kendali utama. (Agustian, Ary Ginanjar. Rahasia Sukses Membangun Kecerdasan Emosi dan Spiritual ESQ)

    Oleh sebab itu tidaklah pelatihan karyawan sebuah perusahaan cukup dengan pelatihan kognitif saja, tetapi juga aspek SQ dan EQ-nya yang mengacu pada perubahan mental dan attitude karyawan..

    Pelatihan yang berkontinu (terus-menerus)

    Peter Drucker menunjukkan bahwa justru dengan pelatihan yang terus-meneruslah orang Jepang membuat pekerja makin besar rasa tanggung jawabnya terhadap pekerjaannya dan alat-alat yang digunakan. Pelatihan membuat pekerja mengerti akan prestasinya, prestasi bawahannya, prestasi teman sejawatnya, prestasi perusahaannya, dan berusaha untuk meningkatkan prestasi2 itu. Pelatihan menciptakan komunitas kerja dan pekerja. (Kussriyanto, Bambang. Seri Manajemen No.95: Meningkatkan produktivitas karyawan)

    Terlalu sering dampak nyata sebuah pelatihan, apapun jenisnya adalah mereka hanya mendapat energi baru. Manfaat training memang sangat dirasakan seperti: memahami arti penting berpikir positif, proaktif, orientasi pada tujuan, empati, komitmen, atau sinergi. Akan tetapi setelah 3 bulan, biasanya peserta sudah lupa untuk mempraktikkan konsep pada buku tersebut. Yang tersisa tinggallah slogan-slogan seperti: you can if you think you can, think globally act locally, there is a way there is a will, dst, Sesudah itu para peserta pelatihan kembali pada kebiasaan lama mereka sebelum pelatihan. (Agustian, Ary Ginanjar. Rahasia Sukses Membangun Kecerdasan Emosi dan Spiritual ESQ),

    Karenanya kontinuitas dalam pelatihan sangat menentukan hasil akhir peningkatan performance para pekerja, sebab selayakanya sifat dasar manusia pada umumnya yaitu cepat lupa.

    Dampak pelatihan

    Dampak yang paling umum dari sebuah sebuah pelatihan adalah meningkatnya rasa percaya diri peserta, setidaknya untuk sementara waktu. (Ginanjar, Ary. Rahasia Sukses Membangun Kecerdasan Emosi dan Spiritual ESQ, mengutip dari Richard Boyatzis, Consequences of Rejuvenation as Competency-Based Human Resources and Organisation Development, Research in Organizational Change and Development IX, 1993)

    Sebuah training yang diikuti pesertanya dengan dilandasi kesadaran dirinya yang kuat, yang sesuai dengan suara hatinya maka ia akan menjadi jawaban dari metode pembentukan karakter (mental building). Selain itu terus berkelanjutan dan bisa dilaksanakan sepanjang waktu, sehingga meghasilkan peningkatan ESQ secara berkesinambungan dan berkelanjutan seumur hidup. Selain itu hendaknya sebuah training mengahsilkan internalisasi karakter, yang tentu saja harus dilakukan secara kontinu. Bila tidak secara kontinu, manfaat training yang begitu hebat terasa singkat

    Berikut ini Ilmu pembentukan mental dan attitude (EQ) yang dikemukakan Ary Ginanjar Agustian bahwasanya:

    Pemahaman à pelatihanà kebiasaanàkarakteràkeberhasilan

    Beberapa contoh pelatihan ESQ*

    1. Pelatihan penjernihan emosi melalui wudhu,

    Membasuh wajah àpenjernihan dan penyucian hati serta pikiran

    Membasuh tangan à penyucian segala kegiatan

    Membasuh kepala à pikiran yang suci

    Membasuh kaki à langkah lurus nan bersih

    2. Doa iftitah

    Secara berulang-ulang menyatakan tentang kesucian Allah. Hal ini akan mendoktrin jiwa seseorang untuk selalu mengikuti teladannya yaitu Allah Yang Maha Suci. Hasil akhir yang diharapkan adalah sebuah fitrah atau hati bersih yang sangat cerdas.

    3. Rukuk dan sujud

    Rukuk—pujian dan keinginan

    Memuji artinya menjunjung, dan orang yang menjunjung akan menempatkan sesuatu hal pada tempat yang tinggi.Menghasilkan pemikiran yang selalu menjunjung tinggi kesucianatau kejernihan hati, pikiran, dan tindakan yang bebas dari berbagai belenggu.Selanjutnya ia kan menyakini bahwa kejernihan hati dan tindakan akan membimbing seseorang pada keagungan

    * (sumber: buku Rahasia Sukses Membangun Kecerdasan Emosi dan Spiritual ESQ : emotional spiritual quotient berdasarkan 6 rukun iman dan 5 rukun islam)

    Kesimpulan

    Pelatihan dalam sebuah organisasi/perusahaan sangatlah penting sejalan dengan budaya organisasi, pembentukan mental karyawan dan peningkatan kinerja sesuai dengan perkembangan zaman. Pelatihan yang diselenggarakan hendaknya tidak menekankan aspek kognitif saja, tetapi juga aspek attitude yang tercermin dalam penerapan EQ dan SQ.

    Selain itu pelatihan yang baik hendaknya memperhatikan kontinuitas dari pelatihan tersebut, sesuai dengan filosofi long life education yang berpijak pada pendidikan orang dewasa, sehingga manfaat dari pelatihan tersebut tidak hanya dirasakan dalam beberapa waktu saja kemudian hilang seketika, tetapi tetap tertanam dalam budaya organisasi. Jangan sampai tagline salah satu iklan “ sudah lupa tuh..” menghiasai karyawan-karyawan yang rajin ikut pelatihan.

    Daftar Pustaka

    Miarso, Yusufhadi.Menyemai Benih Teknologi Pendidikan.

    Kussriyanto, Bambang. Seri Manajemen No.95: Meningkatkan produktivitas karyawan. LPPM bekerjasma dengan PT Pustaka Binaman Pressindo.

    Agustian, Ary Ginanjar. Rahasia Sukses Membangun Kecerdasan Emosi dan Spiritual ESQ : emotional spiritual quotient berdasarkan 6 rukun iman dan 5 rukun islam. Penerbit Arga.

    Tulisan ini dibuat sebagai tugas kuliah ke-2 (pentingnya pelatihan dalam organisasi) mata kuliah Desain Pelatihan, program studi Teknologi Pendidikan, Universitas Negeri Jakarta semester ganjil 2007.

  • Pilih mana… Pendidikan atau Pelatihan?

      3 comments
    Tidak jarang diketemukan perusahaan mengutus beberapa karyawannya dari berbagai divisi mendapat kesempatan tugas belajar (melanjutkan studi), mengikuti seminar, pelatihan, ataupun workshop dengan harapan mereka dapat mengembangkan kompetensinya, meningkatkan kinerja ataupun sekedar menambah pengetahuan terbaru tentang perkembangan bisnis yang digeluti. Akan tetapi hasil yang ada terkadang tidak sesuai dengan harapan. Mungkinkah hal itu terjadi akibat kesalahan karyawannya yang tidak bersungguh-sungguh mengikuti pendidikan/pelatihan itu? Atau kesalahan perusahaan dalam memilih pembelajaran yang sesuai bagi mereka? Sebenarnya apa itu pendidikan dan pelatihan? Mengapa kedua hal itu disebut sebagai sesuatu yang serupa tapi tidak sama?Berikut ini beberapa definisi dan kajian tentang kedua hal tersebu.

    Dalam buku “Menyemai Teknologi Pendidikan”, buah karya Prof Yusufhadi Miarso, MSc, disebutkan bahwa tenaga kerja yang dibutuhkan dalam era perubahan ini adalah mereka yang terdidik dengan baik, terlatih, dan mengusai informasi (well educated, well trained, well informed).
    Lebih lanjut disebutkan bahwa pendidikan adalah pembentukan sikap, penguasaan keterampilan, dan perolehan pengetahuan sebelum memasuki dunia kerja. Sedangkan pelatihan adalah peningkatan kemampuan secara khusus dalam suatu lingkungan kerja.
    Sedangkan Jay Cross dalam tulisannya Training vs. Education:A Distinction That Makes A Difference yang dipublikasikan pada Bank securities Journal, menyebutkan bahwa Pelatihan bukanlah pendidikan. Pendidikan diukur dari waktu (tenure) seperti halnya mengikuti seminar atau kuliah 4 tahun di kampus. Pelatihan (training) diukur dari ‘apa yang dapat kamu lakukan setelah kamu menyelesaikan masa pelatihan itu’. Training adalah melakukan. Training meningkatkan performance. Tujuan yang baik dalam sebuah training adalah memiliki kemampuan untuk melakukan sesuatu (doing something), bukan memiliki kemampuan untuk mengetahui sesuatu (knowing something). Dalam training bukan satu kesempatan hasilnya bisa langsung dirasakn, sebab training merupakan proses. Kebiasaan positif harus selalu diulang kembali jika meinginkan materi pelatihan itu terus melekat dalam diri individu.

    Lain halnya definisi training menurut wikipedia.
    Training merupakan kegiatan untuk meningkatkan pengetahuan, keahlian, kompetensi, sebagai hasil dari pengajaran vocational dan latihan keahlian dan pengetahuan yang berhubungan dengan penggunaan keahlian yang spesifik. Dahulu, bentuknya dapat berupa magang seperti ayng dilakukan pada kampus teknik dan politeknik. Namun sekarang sering diartikan sebagai pengembangan profesional.

    Perbedaan training dan pendidikan dari sumber lainnya adalah
    Training diartikan sebagai aktivitas bersama antara ahli (expert) dan pembelajar (learnenr) bekerja sama dalam rangkan metransfer information secara efektif dari ahli kepada pembelajar (learner) untuk meningkatkan pengetahuan, sikap, dan keahlian pembelajar sehingga si pembelajar dapat menampilkan pengerjaan tugas dan pekerjaan lebih baik lagi untuk selanjutnya.
    Dalam aplikasinya, kini training sering dikaitkan dengan development. Secara umum pengertian keduanya ini adalah sebuah bidang studi yang peduli dengan pembelajaran di dunia kerja untuk meningkatkan prestasi kinerja.

    Pendidikan
    Lebih umum dibandingkan dengan pelatihan/ training karyawan. Beberapa professional melihat pendidikan sebagai sesuatu yang harus diselesaikan dalam konteks personal dan mengerti akan dunia, sehingga sebuah kehidupan dan pekerjaan secara substansi akan meningkat (lebih baik lagi). Contoh ungkapan seorang boss untuk karyawannya: “Go get an education.”
    Akan tetapi juga ditemukan perspektif yang berbeda tetnang makna pendidikan. Pendidikan dianggap sebagai proses pemebelajaran yang dibutuhkan untuk menyelesaikan sebuah tugas/pekerjaan yang baru.

    Perbedaan Pendidikan, pembelajaran, pelatihan, dan pengembangan secara umum
    Secara garis besar, berikut ini merupakan perbedaan diantara keempat bidang (education, learning, training, and development)

    (A) Pendidikan Pembelajaran
    (B) Pelatihan Pengembangan

    Pendidikan (Education)
    o Mengembangkan kemampuan intelektual, konseptual, dan pemahaman social.
    o Mengembangkan kinerja karyawan melalui proses belajar.

    · Pembelajaran (Learning)
    o Fokus pada perubahan di sebuah tempat secara individual
    o Proses untuk meraih pengetahuan, keahlian (skill), dan sikap yang diinginkan.

    · Pelatihan (Training)
    o Konsep yang dibuat sejalan dengan perencanaan aktivitas instruksional yang ingin
    dicapai perusahaan dalam waktu dekat ini.
    o Biasa digunakan untuk proses departemental dan aktivitas pengembangan.

    · Pengembangan (Development)
    o Perbedaan pandangan dalam berinteraksi dengan factor internal dan eksternal.
    Bagian dari Manajemen sumber daya manusia. Itu juga menggambarkan strategi
    organisasi untuk mengatur proses.
    o Hasil akhir mungkin bertahan lama tetapi selalu menurun setiap saat.

    Perbedaan lainnya antara training dengan pembelajaran dan pengembangan dapat digambarkan bahwa pembelajaran dan pengengemabngan sebagai intervensi dan aktivitas yang berguna untuk meningkatkan pengetahuan dan kemampuan (skill) dalam organisasi yang berfokus pada di pembelajar.

    Sedangkan persamaannya adalah bahwa kesemuanya merupakan proses dalam usaha untuk meningkatkan pekerja, kebiasaan, dan kinerja. ·

    Bentuk training
    Training biasanya dikategorikan menjadi on-the-job dan off-the-job. Training On the job biasanya efektif untuk pekerjaan yang membutuhkan keahlian. Bentuknya seperti penggunaan tools yang baisanya digunakan, peralatan, dokumen dan materi yang akan digunakan ketika dilateih seecara penuh yang dekat dengan kehidupan normal pekerjaan. Sedangkan Training off-the-job dilakuakn jauh dari situasai lingkunagn pekerjaan sehingga lebih konsentrasi terhadap traiing yang diberikan. Pada training off the jobs ini, akan lebih efektiff untuk pelatihan dalam bidang konsep dan ide. Dalam penerapannya, berbagai metode training diberikan untuk mengembangkan kecerdasan artificial berkembang baik.

    Kesimpulan
    Dari semua penjabaran diatas dapat disimpulan bahwa perbedaan utama dari Training dan Pendidikan terletak pada beberpa hal, yaitu: waktu (training dalam jangka waktu singkat, sedangkan pendidikan lebih lama), bidang kajian (training spesifik, pendidikan lebih luas), dan tujuan (training untuk meningkatkan kinerja/ skill tertentu yang langsung diterapkan dalam pekerjaan, sedangkan pendidikan lebih umum dan menyeluruh). Training lebih menekankan learning by doing dan penguasaan secara parsial, sedangkan pendidikan lebih berupa penanaman konsep, penambahan pengetahuan secara keseluruhan.
    Oleh sebab itu saya sangat sependapat dengan tulisan Prof Yusuf dalam buku Menyemai Benih Teknologi Pendidikan, dikatakan bahwa dalam lingkungan kerja, penggabungan ketiga hal tersebut (pendidikan, pelatihan, dan informasi) merupakan usaha pemberdayaan yang berlangsung secara terus menerus. Tentu saja yang harus diperhatikan dalam meutuskan cara mana yang efektif dalam mengutus karyawan untuk mengikuti pelatihan, pendidikan, ataupun seminar adalah melihat urgensi dari kebutuhan itu disesuaikan dengan anggaran dan sumber daya yang akan mengikuti kegiatan itu. Jangan sampai justru sang penerima kesempatan itu tidak memberikan performance yang lebih baik dari sebelumnya dan apa yang diharpakan perusahaan berbeda dengan hasil. Kalau sudah begitu hanya buang-buang energi atau biaya saja.

    Nb:Training berbeda dengan exercise
    Perbedaan Training dan exercise adalah exercise biasanya digunakan untuk aktivitas yang menyeangakn. Sedangkan Training lebih kuhusu dan dilakukan untuk meningkatkan suatu kapabilitas, kapasiats, dan kinerja (performance)

    Daftar pusataka

    http://www.wikipedia.org
    Bank securities Journal Training vs. Education:A Distinction That Makes A Difference by Jay Cross
    Miarso, Yusufhadi.Menyemai Benih Teknologi Pendidikan.
    Beberapa website yang berkaitan dengan teknologi kinerja, training, dan pendidikan.

    Tulisan ini dibuat sebagai tugas kuliah mata kuliah Desain Pelatihan, program studi teknologi pendidikan, Universitas Negeri Jakarta semester ganjil 2007.

    ______________________________________

    Add me on your multiply:
    http://maydina.multiply.com