Kurang lebih 3 tahun yang lalu, saya menulis di kolom iptek majalah kampus saya, tentang ‘network engine..yang menjadi trend’. Kala itu social networking yang sedang booming adalah friendster. Saran saya ketika itu teman-teman mahasiswa hendaknya melihat dahulu kebutuhannya dalam menggunakan Social Network Engine (SNE) tersebut jangan asal meng’sign up’ semua permintaan yang dikirimkan ke email dari referensi teman kita yang lain. Iseng-iseng saya kembali menganalisis secara sepintas segmentasi dari tiap-tiap SNE ketika itu. Berdasarkan teori PDB yang diajarkan pak Hermawan lewat bukunya yang putih itu hehehe (saya suka mengikuti perkembangan dan pemikiran pak Hermawan Kertajaya..), saya mengambil kesimpulan 1. Friendster –> mesin pertemanan.. kalau sekarang..segmentasinya lebih ke anak SMP-kuliahan, SES B-C, targetnya: mencari teman lama dan memperbanyak teman… 2. WAYN.com–> social networking untuk para traveller… sebab ada aplikasi untuk mensharing letak posisi dimana sang user berada 3. tagged.com–> mirip friendster..tapi ada aplikasi tambahan..yah nge-tagg 4. multiply.com–> disini biasanya para penulis berkumpul…nggak harus penulis…orang yang suka nulis dan berdiskusi cocok banget di sini (differentiationnya: memadukan antara blog dan SNE) 5.deviantart.com–> di sini gudangnya anak2 seni dan desain pamer karya, diskusi, bergaul.. Bahkan tidak jarang..bisa jual-beli karya euy..karya kita juga dilindungi, terbukti saat mau memposting ada pilihan karya kita mau dapat lisensi apa? creative common, dsb). 6. Linked.com–> SNE untuk para profesional unutk memperluas bisnis Nah kini..facebook yang pada awalnya kurang dikenal..saat ini mulai menjadi trend.. Para pengguna FS mulai beralih kesini , dengan alasan fitur2 aplikasinya lebih banyak.. Nggak hanya itu, para pengguna multiply juga mulai beralih kesini..salah satunya sebab ada fasilitas notes ini. MEngapa facebook bisa eksis? sebab banyak inovasi di dalamnya. Penemunya yang umurnya seumuran dneganku ckckck… berhasil menyatukan banyak komponen dalam bauran promosi dalam aplikasi-aplikasinya. Lihat saja..<b>facebook dapat berfungsi sebagai media promosi, marketing, sosialisasi event, dan kampanye </b> Melalui facebook pula segmentasi, target market, ataupun positioning seseorang dapat terlihat dengan jelas… Dari mana?lihat profile dari tiap user facebook… groups, hoby, fans, dan causes apa yang ia ikuti. Selain itu.. dengan facebook, tidak ada birokrasi hehehe.. Namun hati2 juga.. facebook bisa menemani anda membunuh waktu..(itu lho..kalo dijabanin tuk approve smua apllikasinya.. abis deh waktu..) <b>trend baru</b> Berkembangnya SNE ini secara nggak langsung merubah paradigma dalam branding, promosi dan marketing.. oleh karena itu kini bermunculan istilah online branding, viral marketing, online promotion, dsb. Para marketer yang cerdas, pasti melihat celah ini..makanya perusahaan ataupun usaha perseorangan berlomba-lomba membuat website ataupun blog untuk mempromosikan produknya. Salah satu cara terampuh membius konsumen adalah promosi melalui social networking Engine. Mengapa? sebab..jika saja sebuah produk(barang/jasa) telah berhasil menggaet seseorang yang punya link luas, secara nggak langsung produk tersebut lebih mudah dikenal. Nah disinilah SNE memiliki fungsi bagi seorang marketer..sebab kecenderungan masyarakat Indonesia tidak sedikit kulturnya suka ‘ikut-ikutan’ temen. Kalau merujuk pada buku-buku branding maupun marketing dari luar negeri.. munculnya media baru ini (baik itu online maupun ambience), sudah bergaung semenjak tahun 2005 (kebetulan saya baca buku kotler tahun 2005..dan disitu sudah ada disinggung). Perekonomian kini telah beralih ke e-commerce, tanpa melihat jarak maupun batasan negara.. semua hal memungkinkan…(saya sendiri terkadang membantu orang tua jual-beli prangko via internet–bantu menghasilkan devisa negara dikit lha..), ataupun teman-teman saya..tidak sedikit yang bekerja dari rumah.. tapi kliennya di luar negeri.. Namun untuk yang baru buka usaha dan belum dikenal oleh masyarakt luas.. yah hendaknya dimulai dengan memunculkan brand awarness khalayk ramai.. dengan cara meng-NARSIS-kan produknya maupun dirinya sehingga EKSIS. Caranya yah.. dengan promosi online dan offline..(keduanya harus saling mendukung..). Atau istilahnya anak managemen.. strategi Integrated Marketing Communicationnya..(IMC)nya harus efektif. Kalau ‘brand’nya sudah eksis, IMC yang sesuainya dah ketemu..targetnya mudah deh tercapai… Entah itu ataupun Corporate branding, Education branding, Government branding( indonesia 2008 visual brandingnya kereenn…). Salah satu cara tuk eksis adalah tahu informasi..sebab kita tidak dituntut untuk mengusai semua bidang kan..(lebih baik mendalami..dibanding memperluas..) Era informasi menuntut kita untuk memilah-milah informasi mana yang perlu disimpan atau tidak (disesuaikan dengan kebutuhan). Sebab mau tidak mau kita mengahdapi apa yang disebut dengan ‘ledakan informasi’. Tinggal pinter-pinternya kita memilah informasi yang benar/tidak. Toffler said: di era sekarang pemilik informasi lha yang berkuasa
-
-
* CI–Creative Industry
Huff.. sebenarnya berat mengatakan ini… sebab kini saya berada di dunia yang berbeda 180 derajat…Bekerja di instansi bahkan lingkungan yang sarat dengan software linux dan open source. Berada di gudang IT yang notabene-nya lebih mengenal bahasa program , software, keamanan, dan yang segala sesuai yang berbau IT.
Semenjak masuk ke tempat itu.. berusaha memahami dan meng-explore tentang linux meski hanya terbatas pada ubuntu. Jujur…ternyata tampilan desktop ubuntu bisa dibuat keren secara grafis. Aplikasi GIMP dan inskape untuk grafis juga sudah kucoba.. dan tidak kalah bagusnya.
Namun pada suatu waktu…saat ditanya oleh seniorku yang kebetulan punya usaha..di kantor pakai software apa?saat kusebutkan kedua itu..asing terdengar di telinganya…Saat itu ia cuma menyarankan..kalaupun di kantor tidak tersedia..tetap latih psikomotorik menggunakan adobe di rumah.
Bukannnya aku tidak mau memakai software open source tapi ada beberapa hal yang tidak dapat ditolerir olehku. Untuk open office org, aku bersedia menggunakannya..bahkan sempat mengenalkan Open Office org presentation kepada khalayak umum. Begitupun GIMP dan inskape terkadang aku gunakan.
Namun tolong… kalau udah urusan warna dan urusan compatible-an desain ke percetakan ataupun membuat animasi …aku tidak dapat mentolerir lagi.. harus pake Adobe. Terlepas itu asli atau tidak.. tapi kenyataan di dunia industri grafika ataupun di dunia kreatif… Adobe dan Macintosh adalah dua hal yang tidak terpisahkan.
Microsoft bisa diganti dengan software open source..sebab sekedar aplikasi perkantoran (lagipula ada atau tidaknya software ini di komputerku..nggak gitu ngaruh.. kan masih ada wordpad).
Namun kalau adobe..saat ini aku masih sulit melepaskan diri dari itu. Mengapa?…bukannya aku egois, ngotot menggunakan itu tanpa sebab. Namun coba tunjukkan ada berapa percetakan yang compatible untuk ini? Coba lihat berapa perusahaan kreatif yang menggunakan ini (GIMP and inskape?). Nah…Coba saja kalau sosialisasi penggunaan open source dilakukan pada komunitas kreatif dan para perusahaan percetakan…perkenalkanlah produk-produk open source itu dan berikan solusi jika ada masalah warna, dsb.
Ada yang bisa bantu?..dimana saya bisa menemukan percetakan yang kompetible dengan software GIMP dan inskape? Yang pasti jikalau hingga hari ini saya lebih sering menggunakan adobe.. itu karena tuntutan realitas…kalau ada yang bilang.. ‘lha..loe aja yang mau berubah..nggak mau pake software OS.’ Terserah deh.. lebih baik saya diam, capek menanggapi dengan argumen.. toh saya hanya anak kemaren sore..belum jadi seorang ahli kan? Kalau memang saya memang tidak niat pake OS, nggak mungkin donk hingga saat ini saya menggunakan Ubuntu di komputer saya.
Buktinya jelas!… fitur-fitur yang ada pada GIMP atau Inkscape belum mampu menyaingi adobe. Bahkan untuk adobe Flash belum ditemukan komplementernya pada softwareOS (atau saya yang tidak tahu). Nah sekali lagi saya tekankan.. jika memang mau meng-OS-kan semua… cobalah berpikir dari aspek industri secara luas…untuk dunia kreatif akan sulit..kecuali percetakan atau penerbitan sudah tersosialisasikan tentang OS ini. Nah mungkin para praktisi di dunia kreatif bisa membantu saya memberikan argumen ini? Mungkin Pak Andi S. Boediman bisa memberikan jawaban kenapa digital studio tidak mengadakan training ttg GIMP ataupun Inkscape sebagai salah satu materi pelatihan.
Suatu inovasi akan digunakan oleh khalayak ramai jika memang inovasi tersebut dirasakan manfaatnya dalam mempermudah pekerjaan. Sebuah inovasi memiliki nilai tambah jika ia memiliki fitur-fitur ataupun kelebihan yang tidak dimiliki oleh yang lainnya. Dan alasan seorang konsumen tetap loyal pada produk itu adalah implementasi dari kekuatan ‘brand’ yang melakukan inovasi itu. Sebuah logo lebih dari sekedar logo, jika ia telah memiliki nilai sebagai brand. Adobe adalah salah satu contohnya.. dengan positioningnya yang sudah jelas dan differensiasi yang jelas..ia memenangkan pasar indonesia sebagai software yang memang ‘qualified’ untuk kebutuhan grafis. Jadi wajar jika perusahaan-perusahaan swasta baik atau asing yang berskala nasional membela mati-matian untuk membeli yang original. Mereka memiliki ‘trust’ terhadap produk adobe…bukan karena gengsi-gengsian..tapi memang untuk sekarang adobe adalah software yang dipercaya untuk menghasilkan karya yang berkualitas. Bahkan mungkin kalau seorang insan kreatif diberikan pilihan mau diberikan laptop yang canggih tapi nggak ada software adobe-nya atau diberikan adobe original dengan PC yang biasa..Mungkin akan memilih pilihan kedua.. Mengapa?
Alasan pertama.. yah adobe lebih penting…dibanding laptop. Tanpa laptop masih ada personal computer. Alasan kedua… warna yang diberikan pada PC dengan monitor tabung lebih baik dibandingkan dengan layar LCD jika dikaitkan dengan warna hasil cetakan. Hal ini disebabkan pada warna yang tampil pada layar monitor tabung adalah murni dari warna spektrum cahaya asli sedangkan warna pada layar LCD berasal dari liquid alias cairan kimia. Nah nggak usah heran deh kalau ternyata ditemukan perbedaan warna saat kita coba dekatin laptop ke monitor tabung kita. Nah oleh sebab itu.. lebih nyaman ngedesain pakai PC.
Kalaupun sekarang masih banyak mahasiswa DKV ataupun perusahaan-perusahaan kecil di dunia kreatif menggunakan adobe bajakan bagaimana donk? Mau melakukan aksi sweeping lalu menyuruh menggunakan software OS gitu…tetapi mematikan roda perekonomian bangsa? Pemecahan masalah dengan win-win solution bukan dengan ada pihak yang dimenangkan atau ada pihak yang kalah adalah yang kini kita tuju.. Mungkin akan lebih bijak jika pemerintah mengadakan kerjasama dengan Adobe sehingga harga software tersebut tidak terlalu tinggi, sehingga masyarakat mau membeli software originalnya.. ataupun pemerintah bekerjasama dengan adobe untuk program atau penyediaan paket khusus untuk pengguna mahasiswa, seperti yang kini dilakukan oleh microsoft. Nah disamping itu pemerintah juga harus melihat dengan jeli software apa yang cocok mengkomplementarkan kebutuhan para pengguna adobe ke OS.
Kalau saya ditanya apakah saya mendukung pemerintah dalam kampanye penggunaan open source, maka saya akan menjawab ya…untuk migrasi Microsoft office ke Open Office.org…bagi saya tidak masalah dan saya sendiri sudah melakukannya.. Namun saya juga masih akan tetap menggunakan adobe sebagai media penunjang saya berkarya..
Seperti halnya anda-anda sekarang menggunakan facebook bukan friendster. Semua kembali pada kebutuhan dan paradigma berpikir anda masing-masing…Memakai open source memang dianjurkan..tetapi bukan mutlak. -
Memang.. nggak bisa disanggah.. otak kreatif baru akan bekerja secara maksimal di saat detikdetik terkhir menjelang DEADLINE…Selama semingu-dua minggu ini, menjadi orang aneh..(sering bengong, ngubek2 buku, nggak gaul, ..bahkan ampe2 gak ikt salah satu ‘acara’ di kantor karena jumpalitan dengan teori, buku, dosen pembimbing, kampus, administrasi, dsb)..
Hingga detik-detik waktu di titik puncak (turning point) itu kutemukan.. Jam 2 dini hari(kemaren), setelah berdo’a kepada Allah..aku baru ‘NGEH’ kalau jawaban itu semua bisa dicari dengan cara yang berbeda..tidak menyangka data penunjang itu semua bisa dianalisis via webalizer, google search, dsb..(kemana aja aku selama ini..)
‘Thinking out of the box’.. tiba-tiba menyelimutiku..atau kata Pak Romi.. outbound itu tujuannya agar berpikir di luar kotak–>out of the bound..Bersenjatakan Google engine, alexa.com, webalizer.. data2 menjadi mudah teranalisis.. bahkan aku sampai mendapatkan track alumni BM yang berprestasi, semua blog para pengajar, karyawan, dan bahkan record comment’an antara Pak Romi dengan seseorang ttg SPAM pun terlacak..
Laiknya menjadi koki.. tadaaaaaaaaaaa…Formulasi education branding sudah siap…
Meski tadi saat presentasi.. penyajiannya kurang menarik n tersusun rapi..(kalau ibarat makanan, belum siap tersaji dengan baik). Namun kali ini.. akhirnya…..argumentasiku ada yang diterima…meski seperti biasa dibalas kata-kata yang menyanjung lalu menjatuhkan.(T_T’ coba dari dulu otakku dah ‘NGEH’ dengan langkah analisis data seperti ini..)‘ Tinggal dibuat formulasinya dan disajikan dengan bahasa manusia dengan pondasi teori yang terkait..maka itu sudah jadi.. Analisisnya dah bener…nggak perlu nunggu S2, kalau dah sempurna..knapa takut untuk mempublikasikan? (^_^ akhirnya ada juga argumentasi yang diterima..)
Namun dibalik itu semua..ini baru saja permulaan
Permulaan dari ‘perdjoeangan’ (dah sering banget istilah ini kudengar di BM)————————–——-
Ini adalah momen presentasi terakhir kami (4 mhsw S1 UNJ yang PKL/PPL di sana)…Tak akan kami lupakan masa-masa ’pembantaian’ itu..thx to Pak Romi, acun (the next RSW), via (si Public Speaking), eman (si muka akuntan), mas tanto (sang batman forever), Ozy (linux n joomla mania), jho (si imut yang suka ngeronda), bashir (newcomer), laslie n rini (si kembar yang selalu kompak–padahal bukan anak kembar), Pak Ika Atman, Pak Kyantonius, Pak Slamet R, Pak Chaer, dan lainnya yang pernah menyempatkan waktu berbagi ilmu padaku, dan menjadi salah satu bagian dari penelitianku…
Insya Allah akupun turut mengikat ilmu dengan menuliskannya
Ingin tahu lebih jauh formulasi Edu-Branding?(implementasi perkawinan dua ilmu–desain komunikasi visual dan teknologi pendidikan) tunggu saja artikelnya sebagai pembuka di http://www.maydina.web.id*/pembantaian=simulasi sidang hasil penelitian saat presentasi
-
Iseng2 melihat pengumuman pembukaan pendaftaran beasiswa untuk S2 dalam dan luar negeri di instansiku…buka: http://www.depkominfo.go.id/program/beasiswa-s2-s3-luar-negeri-depkominfo-2009/
Saat melihat salah satu prasayaratnya, berikut cuplikannya:
————————–———————–
Bidang studi yang diutamakan dalam program beasiswa ini adalah:
1. Hukum (Cyber, Satelit, Telekomunikasi, dan bidang hukum lainnya yang terkait dengan TIK)
2. Ekonomi (e-Commerce, e-Business, dan bidang ekonomi lainnya yang terkait dengan TIK)
3. Ilmu Komputer
4. Teknik Informatika
5. Teknik Elektro/Elektronika
6. Teknik Telekomunikasi
7. Ilmu Komunikasi (Penyiaran, Jurnalistik, dan Komunikasi Massa)
————————–———————Arrghh.. knapa sih?nggak ada jurusan educational technology atau Multimedia Design? Begitu sulitkah kedua bidang ini dikenal dan diterima di instansi bukan swasta?pdhl kedua bidang tersebut bagian dari creative industry?
Masih inget pertama kali berada di lingkungan ini..tidak sedikit yang bertanya?apaan tuh jurusan desain komunikasi visual? kuliahnya ngapain? kerjaannya mencetak, desain grafis aja?…dan saya harus menjelaskan bahwa lingkup bidang ini luas, yaitu branding, web design, animasi, games, urban art, interactive media, bahkan penerapan desain pada unconventional media. Bukan hanya cetak brosur, pamflet, dan media konvensional lainnya aja..tapi juga hingga prancangan komunikasi CSR (Corporate Social Responsibily) dan iklan PSA (Public service advertisement), juga bagian dari DKV
Selain itu, tiap kali mengatakan bahwa saya kuliah di teknologi pendidikan, lagi2 banyak yang berkata: ‘Oh ntar jadi guru yah? atau guru komputer yah..” Hallow.. kalau mau jadi komputer yah backgroundnya lebih baik IT lha…
intinya teknologi pendidikan adalah bagaimana memfasilitasi para murid/peserta didik untuk belajar, learn with technology bukan learn about technology.From wikipedia:
Educational technology (also called learning technology) is the study and ethical practice of facilitating learning and improving performance by creating, using and managing appropriate technological processes and resources.”[1] The term educational technology is often associated with, and encompasses, instructional theory and learning theory. While instructional technology covers the processes and systems of learning and instruction, educational technology includes other systems used in the process of developing human capability.Dan kalo ada yang bilang kuliah double adalah buang2 waktu..yah tolong dikaji mendalam.. kedu ahal tersebut sangat berhubungan..dan kalau ada yang bilang..saya salah milih instansi, yah nggak lha.. justru saya milih masuk sini bukan karena label atau bungkusnya.. (sebagian orang merasa kereen dengan title negeri..), tapi isinya/alias konten..
Jadi.. sudahlah.. gak usah ngarepin beasiswa dari dalam.. mending juga cari dari kedutaan2 (bagi anda2 DKV yang mau masuk sini..)
mentok2 paling nyoba beasiswa ilmu komunikasi (inget2 pas kuliah aktif di dunia jurnalistik kampus)
nb: Bang Reza, K Tawon, P Romi, I need your info from Netherland, Japan, n Germany for Educational Technology or Multimedia Design scholarship for Master Degree
-
Di mana ada kemauan di situ ada jalan.
Terkadang motivasi banyak orang turun ketika ada yang mengatakan ‘itu tidak mungkin’, atau ada yang berkata ‘tidak akan bisa’, ’siapa elu’, dsb. Namun tidak segelintir orang yang ‘berani mendaki gunung yang terjal’, memilih ‘jalan sunyi’, dsb. Orang-orang itu yang diknal sebagai petualang, mungkin hanya sedikit orang di dunia ini. Namun banyak orang yang memilih mencari kenyamanan dan berhibernasi di dunia ‘aman’.
Memang pillihan hidup diberikan setiap kali kita melangkah…Terkadang bisa saja langkah yang kita lakukan dianggap memutar (oleh banyak orang), atau dianggap ‘nyeleneh’, atau justru dinilai baik.
Pemikiran visioner terkadang dianggap sepele oleh banyak orang…terlalu menduga-duga, dsb.Tak sedikit para ahli dan ilmuwan yang sukses, dahulu dianggap aneh sebelum pembuktian itu akhirnya dibenarkan oleh publik. Diantaranya: Thomas Alva Edison, Leonardo Da vinci,dsb.
Lantas cuma karena hal-hal sepele, seperti cemooh orang, gosip yang tidak baik tentang kita, dsb kita lantas menyerah.
Toh manusia hidup di dunia ini cuma mampir.. Lagipula yang paling tahu siapa diri kita adalah kita dan Allah SWT.
Jadi teman-teman…jangan mudah menyerah!… Menyerahlah jika memang Tuhan yang menakdirkan itu…tapi kalau belum berusaha dah menyerah…ckckck..
nb: Mukjizat ataupun pertolongan Allah biasanya datang di saat kita merasa ‘zero’, tak merasa berkuasa atas apapun di dunia ini… Jika niatnya baik…setiap langkah pasti ditolong Allah..dan jika tidak ditolong Allah, berarti Allah punya rencana dibalik kegagalan itu.
Caiyoo!…




