Kemaren-kemaren salah seorang rekan kantor, memohon untuk dibuatkan wallpaper corporate…Eh baru sempetnya daku buat kemaren…hihihi..maaf yah…sebagai gantinya tak buat 5 buah nih…Nah bu dikau-dikau yang mo unduh silahkan klik aja gambar2 wallpaper di bawah ini ^_^.. Oh iya pilih 1 yang paling dikau suka yah
-
15 comments -
Siapa yang ingin menjadi guru?
tanya salah satu guru kepada siswa-siswanya di kelas.
Hmm.. berapa banyak yang mengacungkan tangan?Memang sih dibanding profesi lain, guru di Indonesia kadang jarang dilirik.. Dengan alasan gaji rendah, kurang sejahtera, dll. But Kalau gitu siapa donk yang nanti bakal jadi guru?
Tidak halnya seperti di Jepang. Seorang guru yang seringkali disebut denagn istilah sensei, sangat dihormati. Menjadi sensei di Jepang merupakan sebuah pekerjaan yang sangat terhormat. Bahkan meskipun siswa tersebut tidak lagi diajarnya…mereka masih tetap meletakkan penghormatan kepada gurunya. Sebab mereka berpikir.. mereka bisa sukses seperti sekarang ini, disebabkan oleh didikan gurunya dahulu. Bagi mereka sensei adalah sensei..tidak ada namanya mantan sensei.
Nah bagaimana dengan Indonesia?
-
Di era informasi ini disadari atau tidak, aktivitas kita di dunia maya mempengaruhi branding kita dalam tingkat personal atau sering dikenal dengan istilah ‘personal branding’. Bagaimana hal itu terbentuk? Tentu saja dari aktivitas kita di social networking, buah karya/pemikiran yang dipublikasikan di blog, ataupun action kita di komunitas online-offline.

Semenjak ada media sosial, kita dimudahkan untuk masuk ke dalam lingkaran komunitas teman, disamping juga untuk berbagi berita-berita terkait dari luar komunitas sehingga relevan/tidaknya berita dapat tersaring dengan baik. Berita yang tersebar itu secara langsung/tidak langsung terkadang menggugah para anggota komunitas untuk menanggapi sehingga muncul aktivitas kontinu. Oleh sebab itu aktivitas dan keterlibatan seseorang dalam komunitas disamping menunjang branding komunitasnya, juga menunjang branding secara personal. Read the rest of this entry » -
Meski daku kini menyasar di bidang keamanan sistem informasi, bukan berarti image DKV n TP-ku musnah…I still keep that.. coz that’s my world. Dan apapun bidangnya DKV n TP dapat diterapkan di segala sektor, tak peduli secepat apapun perkembangan teknologi…bukan gitu bapak2 ahli dibidang kreatif?
Beberapa analisis singkat ini saya paparkan, mengingat ketika pertama kali menginjakkan instansi ini, tertulisnya sih sebagai ‘analis perencana dan program’ . So meski kini atau suatu saat daku ditempatkan dimana-mana yang tidak terkait dengan bidang awal…Insya Allah akan tetap berperan sebagai ‘analis perencana dan program’ disamping senantiasa berkarya di bidang desain n web non-comercial.
Berikut ini sedikit refleksi dari pengamatanku..mungkin bagian yang terkait dengan ini, bisa menjadikan analisis rignaku ini sebagai masukan..bukan untuk menjatuhkan atau mengkritik yah…tuk kebaikan kita semua kok…
Mem-branding-kan sesuatu butuh strategi komunikasi pemasarn yang efektif…mulai dari perencanaan nama produk tersebut (termasuk di dalamnya kemudahan dalam pengucapan-spelling), filosofis nama tersebut, hingga semuanya dibungkus dalam sebuah visualisasi yang memiliki nilai estetis dan komunikatif.
Definisi brand bisa dilihat di http://en.wikipedia.org/wiki/Brand
Wujud implementasinya itu dikomunikasikan ke masyarakat luas dengan berpijak kepada strategi komunikasi yang efektif…tentu saja hal ini ditunjang dengan pemilihan media yang efektif…
Pemilihan media ini disesuaikan dengan target market… -
DKV? Desain Komunikasi Visual..apaan tuh? –pertanyaan paling sering kujumpai saat masuk ke instansi pemerintah.Berkali-kali pula harus kujelaskan… tapi ini semua kumaklumi…maklum kalo DeKaVe jadi barang langka…buktinya di instansiku cuma ada 3 orang DKV.
Masih inget awal mula daku freelance di sebuah tempat…terkadang lulusan DKV dianggap tukang setting logo, operator grafis, dsb. Kala itu kuberpikir, kalo butuhnya cuma untuk nemplokin logo, bikin desain yan gudah ada contohnya, dah ada patternnya…itu mah cukup anak SMK teknik grafika kelas 2 aja pasti dah bisa… nggak perlu S1 wekekeke…
Trus ada lagi kutemui, DKV membuat copywriting, storyboard tuk iklan saat daku freelance di sebuah advertising…Yah itu baru DKV…
DKV S1 mencetak seorang lulusan hanya untuk membuat Logo? nope.. bukan logo tetapi ‘Branding’. Berbeda dengan logo yang hanya sekedar visual dari sebuah merek.
Lulusan Desain Komunikasi Visual S1 itu dipersiapkan untuk:
1. Menjadi konseptor dibidang visual-branding
2. Memiliki kemampuan dibidang animasi, pekerja seni dibidang film, web designer, layouter, desain grafis, fotografer, dsb.





