• Mari Perhatikan keefektifan penyampaian pesan Visual dan perancangan pelatihan sebelum sosialisasi

      0 comments

    Meski daku kini menyasar di bidang keamanan sistem informasi, bukan berarti image DKV n TP-ku musnah…I still keep that.. coz that’s my world. Dan apapun bidangnya DKV n TP dapat diterapkan di segala sektor, tak peduli secepat apapun perkembangan teknologi…bukan gitu bapak2 ahli dibidang kreatif?

    Beberapa analisis singkat ini saya paparkan, mengingat ketika pertama kali menginjakkan instansi ini, tertulisnya sih sebagai ‘analis perencana dan program’ . So meski kini atau suatu saat daku ditempatkan dimana-mana yang tidak terkait dengan bidang awal…Insya Allah akan tetap berperan sebagai ‘analis perencana dan program’ disamping senantiasa berkarya di bidang desain n web non-comercial.

    Berikut ini sedikit refleksi dari pengamatanku..mungkin bagian yang terkait dengan ini, bisa menjadikan analisis rignaku ini sebagai masukan..bukan untuk menjatuhkan atau mengkritik yah…tuk kebaikan kita semua kok…

    Mem-branding-kan sesuatu butuh strategi komunikasi pemasarn yang efektif…mulai dari perencanaan nama produk tersebut (termasuk di dalamnya kemudahan dalam pengucapan-spelling), filosofis nama tersebut, hingga semuanya dibungkus dalam sebuah visualisasi yang memiliki nilai estetis dan komunikatif.

    Definisi brand bisa dilihat di http://en.wikipedia.org/wiki/Brand

    Wujud implementasinya itu dikomunikasikan ke masyarakat luas dengan berpijak kepada strategi komunikasi yang efektif…tentu saja hal ini ditunjang dengan pemilihan media yang efektif…
    Pemilihan media ini disesuaikan dengan target market…

    Istilahnya kalo mau membunuh semut nggak usah pake bom. So kalo target marketnya dewasa muda, memiliki gaya hidup suka online…yah nggak usah cape2 buat TVC kan? ngabisin dana ajah…

    Sebaliknya kalau memang target marketnya tuk dikomunikasikan ke masyarakat awam tentang pentingnya menggunakan internet, tapi mereka sendiri nggak tahu apa itu barang yang namanya internet..yah gunakanlah pamong2 desa, tokoh yang dihormati masyarakat, guru, dsb yang bisa mengkomunikasikan melalui saluran ‘word of mouth’

    Kalau menganut asas efektif dan efisien alias tepat guna n sasaran. Nah dalam merancang sebuah sosialisasi hendaknya dipertimbangkan aspek keefektifan diseminasi informasinya donk.
    Misalkan dalam sebuah sosialisasi itu dibutuhkan workshop/training..Maka sebelum hari ‘H’nya harus dipersiapkan desain dari pelatihan itu, bukan hanya sebatas tempat, nara sumber, dan konsumsi saja..Namun yang terpenting adalah ‘desain instruksional’nya. Desain instruksional itulah yang menjadi pegangan kita dalam menyelenggarakan pembelajaran di kelas yang diimplementasikan dalam RPP (Rancangan program pengajaran)..mulai dari estimasi waktu tuk ‘perkenalan’, ‘ice breaking’, masuk ke materi awal, materi inti, games, cara penyajiannya ke peserta pelatihan, media yang dibutuhkan apa saja, dan yang nggak kalah pentingnya..’visual’ yang disajikan.

    Nah disaat ini lha DKV dibutuhkan..misal untuk membuat presentasi yang ok..aspek harmoni, keseimbangan, estetis, dsb dibutuhkan… Sedangkan saat penyajiannya, sutradara pembelajran yang berperan adalah seorang teknolog pendidikan.

    Makanya kala dahulu ada yang bilang kedua ilmu yang saya kejar tiu nggak nyambung satu sama lain..saya hanya tersenyum saja.. (maklum di Indonesia hal ini adalah barang langka), sedangkan di luar sono kedua bidang itu memiliki benang merah..sehingga nggak jarang mahasiswa S2 di luar sono ayng ngambil jurusan digital design belajar e-learning juga, sebaliknya mahasiswa jurusan educational technolgy juga memiliki mata kuliah multimedia design juga…

    Setelah beberapa bulan memerhatikan berbagai media komunikasi dan promosi yang sering digunakan tuk komunikasi ke masyarakat di sekitarku berikut ini beberapa rekomendasi:

    1. Kalo emang promosi melalui pamflet..yah jangan asal ngasih pamflet ke semua orang.. disesuaikan ama target market utama.. Jangan misalnya pamflet tentang pemilu, tapi dikasihnya ke anak kecil…

    2. Ada dua tipe pesan, yaitu mengkomunikasikan secara hard sell dan mengkomunikasikan secara soft sell…kalo tujuannya tuk jor-jor-an gunakan bahasa yang lugas dan langusng..kalo tujuan untuk membuat masy berpikir gunakan kata-kata yang membuat pertanyaan

    3. Jika menaruh spanduk wong dipikir-pikir…alias jangan asal naro..beberapa kali pernah saya lihat naro spanduk didepannya ditutupi tanaman/pohon..wong gimana mo dilihat masy?

    4. Apabila menggunakan balon udara tuk promosi yah wong dilihat donk fungsi n tujuannya plus tempat pemasangannya…jangan ditaro di tempat yang ketutupan banyak gedung..itu nggak guna…!

    5. Kalau target marketnya adalah kalangan ICT atau insan TIK, maka lebih jor-jor-an promosi online-nya. Hari gini sudah saatnya tidak berpangku tangan pada media konvensional seperti pamflet, poster, dsb.

    6. Sudah saatnya para pejabat n karyawan punya blog pribadi…Fungsinya sebagai sarana ‘personal branding’, disamping juga sarana komunikasi dengan rakyat. Then kalo diperusahaan ada istilah corporate blogging maka saatnya government blogging mulai dilakukan…fungsinya yah selain kita bisa berkomunikasi dan meletakkan branding sesuai denagn diri kita apa adanya, tetapi juga kit abisa meng-counter berita-berita yang tidak baik.

    Lihat saja MenKominFo yang sekarang memiliki blog disamping juga eksis di twitter

    7. Beberapa kali menyelenggarakan rapat dengan pihak praktisi, akademisi yang melek ICT, membuat saya belajar…Belajar bahwa sarana efektif tuk membuat mereka hadir adalah dengan email, telp, dan SMS, dengan komposisi: 2 minggu sebelum hari H dihubungi by phone dan email..Menjelang hari H, di-reminder by SMS. Kenapa SMS? sebab kalo nelp, bisa jadi lagi pada sibuk rapat kan?so SMS is the best way!…kalo perlu jika punya FB dan blog, diingeitn by FB atau blognya.

    8. Sedangkan agar peserta seminar/workshop yang hadir sesuai dengan target market (insan ICT) dan banyak yang hadir…cukup dengan keluar-masuk milis, sebar2in ada forum diskusi/seminar/workshop. Dari situ baru deh lihat animo masyaraktnya..jika nggak banyak yang naggapin, baru sebarin info by offline.

    Bagi segmentasi kalangan dewasa muda-akhir, mengerti Information, Communicatin, and technology..format promosi denagn komposisi 70% promosi online dan 30% promosi offline sudahlah cukup… Kalo tidak berhasil, bisa jadi caranya yang salah…Coba gunakan FB, fasilitas event, groups, n pages sangat menunjang tuk mengundang banyak orang… Bahkan sebagai salah satu media komunikasi yang efektif untuk mem’branding;kan perusahaan…Nah kalo perusahaan aja bisa, knapa government nggak bisa? wekekeke…

    ————–
    Yah itu sedikit pesan dan saran aja… kalo ada yang mau referensi tentang marketing communication …saya da bukunya kok..jadi apa yang saya sampaikan di atas ada landasannya… cek deh buku2 Hermawan Kertajaya, Philip Kotler, buku2 RockPort, dsb.

    EItss..baru inget..daku belum melihat sign system di kantor…apa perlu daku bantu tuk buat desainnya? Sebab sign system dalam sebuah gedung sangat penting sebagai sarana komunikasi lho.. http://en.wikipedia.org/wiki/Category:Sign_systems

    Ini hanya masukan dan wawasan bagi kamu2 yang sudah tersebar di berbagai unit kerja di kantor…mudah2an bisa diterapkan di subdit amsing-masing..sehingga dalam membuat perancanagn promosi dan komunikasi memperhatikan efektif dan efisien dari sebuah media, pesan, dan pelaksanaan training

    Write a comment