Di era informasi ini disadari atau tidak, aktivitas kita di dunia maya mempengaruhi branding kita dalam tingkat personal atau sering dikenal dengan istilah ‘personal branding’. Bagaimana hal itu terbentuk? Tentu saja dari aktivitas kita di social networking, buah karya/pemikiran yang dipublikasikan di blog, ataupun action kita di komunitas online-offline.

Semenjak ada media sosial, kita dimudahkan untuk masuk ke dalam lingkaran komunitas teman, disamping juga untuk berbagi berita-berita terkait dari luar komunitas sehingga relevan/tidaknya berita dapat tersaring dengan baik. Berita yang tersebar itu secara langsung/tidak langsung terkadang menggugah para anggota komunitas untuk menanggapi sehingga muncul aktivitas kontinu. Oleh sebab itu aktivitas dan keterlibatan seseorang dalam komunitas disamping menunjang branding komunitasnya, juga menunjang branding secara personal.
Dalam tulisan Pak Hermawan Kertajaya yang berjudul ‘Kehidupan Sosial Bagi Seluruh Masyarakat New Wave’ disebutkan bahwa konektor sosial kini seakan dilipatgandakan saat media sosial yang ada di online menjadikan interaksi sosial dapat terjadi secara efisien waktu dan tidak terbatas lokasi. Itu sebabnya konektor sosial dapat menjadi salah satu kekuatan penghubung utama di dunia New Wave yang semakin horisontal dan bertitik tolak kepada kehidupan dan hubungan sosial bagi seluruh masyarakat.
Munculnya berbagai komunitas dalam waktu yang singkat tentu juga dipengaruhi oleh mudahnya keteraksesan social media yang memfasilitasi konektor sekarang ini. Ketika hendak membuat sebuah forum sharing untuk memfasilitasi insan muda kreatif belajar untuk menunjang perkuliahan/ pendidikan formal, saya bersama beberapa teman memanfaatkan facebook groups dan pages sebagai langkah awal dalam membangun komunitas ‘forum belajar kreatif’ . Tujuan forum ini adalah menggugah para insan kreatif yang ingin berbagi,belajar, dan berkarya secara bersama-sama tanpa melihat perbedaan latarbelakang, komunitas, pendidikan, dan lainnya. Forum sharing ‘n learning ini diharapkan dapat menunjang keberlangsungan SDM dunia kreatif kedepannya.
Kembali ke artikel Pak Hermawan Kertajaya yang berjudul ‘Brand Tidak Ada Gunanya Tanpa Karakter bahwa di era New Wave’ ini, kita diingatkan bahwasanya konektor dapat membuat seorang amatir dapat menjadi tenar dalam sehari begitu pula sebaliknya, meredup seketika. Berbeda halnya jika brand tersebut memiliki karakter yang konsisten dan memiliki nilai otentisitas yang akan sustainable. Karakter manusiawi yang dibangun sehingga dapat diterima di tengah komunitas secara langsung maupun tidak langsung membangun dan menjaga karakter sesungguhnya dari brand yang akan kita bangun.
Berdasarkan hal di atas, ketika men’sounding‘kan forum belajar kreatif, ditekankan bahwa karakter yang hendak dibangun di komunitas ini adalah semangat untuk ‘berbagi, belajar, dan berkarya bersama‘ dalam lingkup dunia kreatif dengan konsep pem‘belajar’an yang mengedepankan partisipatif, humanis, dan konstruktif dalam setiap kegiatan kopdar maupun kegiatan lainnya seperti pembuatan e-magazine, sehingga kondisi pembelajaran menyenangkan dapat dirasakan. Saat itu saluran komunikasi dengan message di FaceBook menjadi prioritas utama disamping groups dan pages sebagai media promo penunjang. Strategi ini diterapkan mengingat karakter segmentasi peserta dan volunteer dominan berusia 19-24 tahun lebih familiar berkomunikasi lewat Facebook dan twitter diikuti dengan blog komunitas dan mailing list diprioritas selanjutnya. Sedangkan untuk memfasilitasi hasrat untuk berkarya dan aktualisasi para peserta dan volunteer secara bersama maka dibuatlah belajarkreatif e-magazine .
Dalam perjalanannya kami senantiasa belajar dari pengamatan dan observasi pada komunitas lainnya dengan mengikuti kegiatan komunitas lainnya ( baik itu sekedar dengar, datang, ataupun melihat lebih dalam). Dari kegiatan-kegiatan itu, kami mempelajari beberapa hal yaitu: mereka yang eksis, baik itu secara personal ataupun komunitas hingga sekarang ini adalah mereka yang memiliki karakter manusiawi, disamping memiliki ciri khas dari tiap komunitas/individual sebagai positioning. Seperti halnya yang pernah disebutkan dalam tulisan Pak Hermawan Kertajaya yang berjudul ‘Brand Tidak Ada Gunanya Tanpa Karakter bahwa di era New Wave’ bahwa Karakter-karakter kejujuran, saling menghormati, tanggung-jawab, prinsip keadilan, peduli satu sama lain, dan jiwa ‘merakyat’ yang horisontal terintegrasi dalam diri mereka secara individu dan komunitas yang diikuti. ‘A brand, without character, is nothing.’
Beberapa tokoh yang telah membuktikan karya dengan memperhatikan prinsip New Wave Marketing Pak Hermawan Kertajaya baik itu secara dunia maya dan nyata bersama dengan komunitasnya menurut pandangan saya, diantaranya:
1. Mas Pitra Satvika yang telah menelurkan beberapa buku terkait dengan FB marketing, e-narcism, n lainnya. Beliau konsisten membrandingkan dirinya dalam kompetensi social media, online branding, interactive media melalui tulisan-tulisannya di media-ide yang mudah dipahami oleh masyarakat umum. Pribadi yang ramah dan gemar berbagi pengetahuan menjadi karakter tersendiri yang menunjang personal brandingnya. Selain itu ia aktif dan memiliki komitmen bersama rekan-rekannya dalam komunitas Freedom of Sharing (FreSh ) yang rutin mengetengahkan topik diskusi dan sharing seputar dunia online, social media, dan website. Bidang ini tentu saja sejalan dengan bisnis yang ia geluti di Strategocorp.
2. Pak Romi Satria Wahono yang juga telah menelurkan buku terkait dengan motivasi para mahasiswa dalam kuliah, khususnya mahasiswa IT, dan tulisan-tulisan lainnya dalam jurnal nasional dan internasional. Pribadi yang merakyat, memotivasi, tegas, dan gemar berbagi pengetahuan menjadi karakter tersendiri yang menunjang personal brandingnya. Beliau yang sering menjadi dosen terbang yang rajing mengisi seminar-seminar berbagai universitas di Indonesia, konsisten membrandingkan dirinya sebagai pedjoeang IT yang berjuang untuk meningkatkan SDM IT di Indonesia dengan tulisan-tulisan di blognya yang mudah dipahami dan dimengerti oleh anak muda. Beliau juga berkomitmen untuk selalu mensupport komunitas ilmukomputer.com yang dibangun bersama teman-temannya yang merupakan portal tulisan-tulisan terkait IT dan internet yang dapat diunduh secara gratis. Aktivitas ini tentu saja sejalan dengan bisnis yang ia geluti di Brainmatics.com
3. Mas Wahyu Aditya dengan blog kdri-nya mengajak masyarakat umum berpartisipasi dalam berkarya grafis, mengetengahkan icon mas Gembol sebagai penjaga KDRI (Kementrian Desain Republik Indonesia). Tak hanya itu setiap tahun rutin menyelenggarakan hellofest. Tentu saja hal ini juga sesuai dengan bisnis yang ia geluti di Hellomotion.
4. Pak Andi S Boediman yang juga telah menelurkan berbagai buku terkait dengan desain grafis, selain aktif di komunitas grafis dan industri, beliau juga telah berhasil membangun sekolah yang terkait dengan desain yaitu Digital Studio dan Internasional Design School (IDS), aktif juga di-twitter dan pernah membuat twibbon berupa ajakan tuk mencintai batik. Meski kini mulai merambah bidang content-multimedia, tetapi brandingnya sebagai icon dunia grafis masih sangat kental di mata mahasiswa desain grafis dan para praktisi/akademisi.
5. Dan masih banyak lagi contoh icon dan komunitas yang belum saya ulas di postingan ini. ^_^ (takut kepanjangan..padahal dah panjang hehehe…)
Sedangkan contoh tokoh yang eksis melalui online-social campaignnya berhasil diantaranya adalah:
- Mas Pandji dan mas Ramya dengan Indonesia unite-nya, mengajak semua masyarakat Indonesia untuk bersatu, meningkatkan rasa nasionalisme dengan tagline ‘kami tidak takut’ dengan berbantuan facebook dan twitcause berhasil membuat para muda-mudi Indonesia aware terhadap kecintaan terhadap Indonesia dan semangat untuk memerangi terorisme.
Berkaca pada teori dan artikel yang disampaikan Pak Hermawan Kertajaya terkait dengan character branding dan kehidupan sosial di era New Wave ini, ditambah lagi contoh penerapan yang sudah ada di lapangan seperti yang tersebut di atas, sudah selayaknya kita dapat mengambil manfaat dan lebih jauh menerapkannya pada komunitas yang kita bina, ataupun yang mungkin akan kita bina. Tak lupa perlu kita lihat sebentar ke belakang untuk mengevaluasi diri apakah personal branding yang kini melekat sudah sesuai dengan ‘Passion’ yang ada? ditambah lagi sudahkan komunitas yang kita ikuti sesuai dengan visi misi, value, budaya dan karakter branding kita? Dan sudahkan Integrated marketing communication (IMC) yang kita terapkan untuk menunjang branding komunitas kita maupun personal branding kita telah sesuai? Jika ternyata sudah OK, kini saatnya anda yang menjadi bintangnya!…tentu saja tetap dengan kesederhanaan dan keikhlasan dalam bertindak ya..
Lantas siapa yang kira-kira akan menyusul mereka yang kini sudah mencetak prestasi secara online dan offline? Membuat konten positif yang selanjutnya menunjang branding secara personal dan berkontribusi kepada komunitas yang sesuai dengan karakter kita? Dalam artikel Kehidupan Sosial Bagi Seluruh Masyarakat New Wave-nya Pak Hermawan dikatakan bahwa ‘popularitas layanan seperti Facebook dan Twitter bahkan telah melewati popularitas pornografi, yang sebelumnya selalu menjadi hal yang paling favorit dikonsumsi di Internet’ Melihat kesimpulan ini, kalau begitu bukan hal yang mustahil konten negatif bisa ditekan laju perkembangannnya jikalau kita secara bersama-sama membuat konten positif bukan?
Ketika mengingat kolaborasi massal, saya jadi teringat bukunya Don Tapscott, Wikinomics yang menyebutkan bahwa kini eranya ‘kolaborasi massal’..So yang tidak berkolaborasi bisa jadi tertinggal kereta deh ^_^
*Artikel di atas ditulis sebagai wujud partisipasi dalam Bloggers @ MarkPlus Conference 2010




Pitra
November 24th, 2009 at 08:25
Waah.. nama gw disebut. Sungguh Tersanjung 12!!
Sebenarnya gak gitu2 amat gw sih
Btw, sampai jumpa ntar di MarkPlus Conference ya
maydina
November 24th, 2009 at 13:43
@mas pitra: itu sekedar analisis doank kok..mudah2an dapat ikutn markplus conference…kalo ternyata gak dapat tiket free, keknya gak jadi ikut hehehe..paling daku lihat ulasan om pit n pasukannya aja di media ide
Pitra
November 24th, 2009 at 15:51
@Maydina
Tenang aja, wong dari panitianya bilang yg submit baru 18 kalo gak salah. Oh ya, Sepertinya tulisan Maydina jg akan dimasukkan dalam buku barunya HK, rilis pas Markplus Conference. Berupa komentar/tanggapan thd artikelnya. Total tulisan yg dimasukkan ada 30, tapi sayangnya sekarang jumlah yg submit dan layak masuk posting cuma 15.